Seni Beladiri Pankration

perpaduan gulat dan tinju paling mematikan di Olimpiade

Seni Beladiri Pankration
I

Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa kita begitu terpesona melihat dua manusia saling bertarung di dalam arena?

Coba bayangkan momen saat kita menonton pertandingan Mixed Martial Arts (MMA). Jantung kita berdebar lebih cepat. Ada lonjakan adrenalin di aliran darah kita, padahal kita cuma duduk santai di depan layar. Secara psikologis, ini adalah respons evolusioner. Otak primitif kita merespons tontonan survival seolah-olah kita ikut berada dalam bahaya.

Kini, mari kita putar waktu jauh ke belakang. Tepatnya ke Yunani Kuno, sekitar 2.600 tahun yang lalu.

Bayangkan sebuah arena berdebu di bawah terik matahari. Tidak ada ring empuk. Tidak ada sarung tinju. Tidak ada ronde, tidak ada kelas berat, dan tidak ada bel istirahat. Aturannya cuma dua: dilarang menggigit dan dilarang mencongkel mata lawan. Sisanya? Bebas.

Teman-teman, selamat datang di arena Pankration. Ini bukan sekadar olahraga. Ini adalah perpaduan gulat dan tinju paling mematikan dalam sejarah Olimpiade kuno. Dan apa yang terjadi di atas pasir arena tersebut, akan membuat pertarungan MMA modern terlihat seperti senam pemanasan.

II

Secara etimologi, nama olahraga ini sungguh mengintimidasi. Pan berarti "semua", dan kratos berarti "kekuatan" atau "kekuasaan". Memang begitulah realitasnya. Para petarung diizinkan menggunakan segala cara untuk menumbangkan lawan.

Mereka boleh memukul, menendang, mencekik, mematahkan tulang, hingga mencekik leher lawan sampai pingsan. Pertandingan hanya berhenti jika salah satu petarung mengangkat jari telunjuknya sebagai tanda menyerah, atau kehilangan kesadaran. Bahkan, terkadang pertandingan baru berhenti ketika ada yang kehilangan nyawa.

Namun, mari kita berpikir kritis sejenak. Kenapa peradaban Yunani yang terkenal dengan filsafat rasional, seni yang indah, dan demokrasi, justru melegalkan kebrutalan semacam ini?

Jawabannya ada pada konsep psikologi sosial masyarakat saat itu yang disebut arete. Bagi orang Yunani kuno, arete adalah puncak keunggulan dan kebajikan manusia. Mereka percaya bahwa kekuatan fisik, ketahanan mental, dan keberanian menghadapi kematian adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada para dewa. Menyerah adalah aib seumur hidup. Di sinilah letak tekanan psikologis yang gila. Bagi seorang atlet Pankration, lebih baik pulang sebagai mayat daripada pulang membawa rasa malu.

III

Sekarang, mari kita bedah Pankration dari kacamata sains, khususnya biomekanika dan anatomi tubuh.

Karena tidak ada sarung tangan, pukulan ke arah kepala sering kali mengakibatkan patah tulang tangan bagi si pemukul sendiri. Itulah sebabnya, para petarung Pankration lebih sering mengincar persendian dan leher. Mereka adalah ahli anatomi yang kejam.

Ketika seorang petarung melakukan kuncian leher (chokehold), mereka sebenarnya sedang bermain-main dengan biologi dasar manusia. Kuncian yang menekan arteri karotis di leher akan menghentikan aliran darah yang membawa oksigen ke otak. Secara medis, ini disebut cerebral hypoxia. Dalam hitungan kurang dari sepuluh detik, pandangan akan menggelap. Jika kuncian tidak dilepas dalam satu atau dua menit, sel-sel otak mulai mati secara permanen.

Di sinilah sebuah paradoks yang mengerikan muncul. Di satu sisi, tubuh sang atlet berteriak panik meminta oksigen. Amigdala di otak mereka memicu respons fight-or-flight yang luar biasa dahsyat. Namun di sisi lain, ego dan konsep arete memaksa mereka untuk bertahan.

Lalu, apa yang terjadi ketika seorang juara bertahan menolak untuk menyerah, padahal tubuhnya secara biologis sudah berada di ambang kematian? Ada satu catatan sejarah yang sangat gila tentang hal ini. Sebuah kisah yang akan membuat kita mempertanyakan batas kewarasan manusia.

IV

Mari kita berkenalan dengan Arrhichion dari Phigalia. Ia adalah legenda. Juara bertahan Olimpiade yang sedang bertarung untuk memperebutkan mahkota ketiganya pada tahun 564 Sebelum Masehi.

Di partai final, Arrhichion terjebak dalam posisi mematikan. Lawannya melompat ke punggungnya, melingkarkan kaki di perutnya, dan mengunci leher Arrhichion dengan sangat rapat. Oksigen ke otak Arrhichion terputus. Wajahnya mulai membiru. Otaknya perlahan mati lemas. Secara biologis, ini adalah akhir.

Pelatih Arrhichion yang berada di pinggir arena berteriak, "Sungguh nisan yang indah jika kau tidak menyerah di Olympia!"

Kalimat itu menembus kesadaran Arrhichion yang mulai memudar. Dalam detik-detik terakhir sisa hidupnya, ia tidak menepuk tanah untuk menyerah. Alih-alih, ia menggunakan sisa-sisa tenaga terakhirnya untuk meraih pergelangan kaki lawannya. Dengan satu sentakan biomekanis yang luar biasa kuat dan brutal, Arrhichion mematahkan pergelangan kaki tersebut hingga terlepas dari persendiannya.

Rasa sakit yang teramat sangat membuat lawannya refleks mengangkat jari telunjuk ke udara. Ia menyerah. Arrhichion menang!

Namun, ada satu masalah. Saat lawannya melepaskan kuncian karena kesakitan, leher Arrhichion ikut terpelintir dengan keras. Sang juara jatuh ke pasir arena. Ia sudah tidak bernapas. Arrhichion tewas.

Dan tahukah teman-teman apa yang terjadi selanjutnya? Wasit tetap melangkah maju. Mereka mengambil mahkota daun zaitun, dan meletakkannya di atas kepala jenazah Arrhichion. Ia dinobatkan sebagai juara Olimpiade. Sang pemenang yang tak lagi bernyawa.

V

Kisah Arrhichion mungkin terdengar seperti fiksi, tapi ini adalah fakta sejarah yang tercatat dengan baik.

Membaca kisah ini mungkin membuat kita merasa ngeri. Kita bisa dengan mudah menghakimi masa lalu dan berkata, "Wah, orang zaman dulu barbar sekali ya." Tapi, coba kita renungkan bersama. Bukankah dorongan primitif itu masih ada di dalam DNA kita?

Bedanya, hari ini kita membungkusnya dengan regulasi. Kita memberi para petarung sarung tangan, kita menyiapkan tim medis di pinggir ring, dan kita punya wasit yang siap menghentikan laga sebelum nyawa melayang. Kita membuat kebrutalan menjadi sesuatu yang aman untuk dikonsumsi sebagai hiburan akhir pekan.

Kisah Pankration mengajarkan kita sesuatu yang mendalam tentang psikologi manusia. Kita adalah makhluk yang secara konstan ditarik oleh dua arah yang berlawanan: dorongan hewani untuk bertahan hidup dan menaklukkan, serta kecerdasan emosional untuk membatasi kerusakan tersebut.

Pada akhirnya, sejarah Pankration bukanlah sekadar cerita tentang kekerasan. Ini adalah cermin. Sebuah pengingat bahwa di balik peradaban kita yang sudah sangat modern dan canggih, kita masihlah manusia yang sama. Makhluk yang terpesona pada keberanian, bergidik melihat rasa sakit, dan diam-diam, selalu mengagumi mereka yang menolak untuk menyerah.